Oct 11 2007
Konvoi Massa Papernas Diserang
JAKARTA—Konsolidasi Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas) tak berjalan mulus. Sekelompok massa mengadang konvoi Papernas supaya mereka membubarkan diri. Massa marah karena menganggap Papernas yang di-launching di Jakarta 22 Juli 2006 lalu itu identik dengan paham komunis.
Tak hanya mengadang, massa yang mengenakan atribut putih-putih dan berasal dari sejumlah ormas Islam itu juga melakukan pengerusakan pada bus yang ditumpangi aktivis Papernas. Lokasinya di sekitar Dukuh Atas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, sekitar pukul 11.00 WIB. Akibatnya, massa Papernas terluka.
Saat itu massa Papernas hendak menuju Hotel Shangri-la untuk menggelar aksi demonstrasi di sela-sela acara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun sebenarnya bukan itu tujuan utama mereka, melainkan menggelar apel akbar di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, pada pukul 15.00 WIB.
â€Semenjak awal kami sudah tahu ancaman mereka tapi kami kira akan aman karena kami sudah mengantongi izin dari Mabes Polri,†kata Katarina Pujiastuti, pengurus Papernas yang mengurus izin ke Mabes Polri. Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) yang diterima dari Mabes Polri itu bernomor STTP/Yanmin/041/III/2007 ditandatangani AKBP Rachmat Slamet.
Lagi pula, bukan sekali ini saja aksi Papernas mendapat tentangan. Konggres I Papernas di Kaliurang, Jogja, pada Januari 2007 juga diwarnai tentangan dari Front Anti Komunis Indonesia (FAKI). Lalu Konferensi Daerah Papernas Jatim yang diselenggarkan awal Maret lalu di Batu, juga bernasib sama.
â€Mereka mengidentikkan kami dengan komunis karena mengusung program perjuangan yang kami sebut Tripanji. Menurut mereka, Tripanji adalah idiom komunis, padahal bukan,†kata Ketua Umum Papernas Agus “Jabo†Priyono dalam jumpa pers di Kantor Kontras, kemarin sore.
Dia menjelaskan, Tripanji berisi tuntutan nasionalisasi industri pertambangan, penghapusan hutang luar negeri, dan industrialisasi nasional untuk kesejahteraan rakyat. â€Asas kami juga bukan komunis, melainkan demokrasi kerakyatan,†sambungnya.
Calon presiden Papernas Dita Indah Sari menambahkan, dirinya menantang pihak-pihak yang anti-Papernas untuk membuktikan kaitan antara Papernas dengan komunis. â€Itu hanya makanan basi yang terus dikunyah-kunyah lalu disemburkan saat momen tertentu,†tegasnya.
Papernas sendiri adalah partai yang didirikan oleh sejumlah organisasi dan aktivis gerakan termasuk PRD (Partai Rakyat Demokratik). Baginya semua perjuangan Papernas tak ada kaitannya dengan komunis.
â€Kami bicara soal nasionalisasi, apa Amien Rais tidak? Lalu dengan begitu apa Amien komunis?†ujarnya balik bertanya. Soal warna bendera Papernas yang merah, Dita lantas membandingkannya dengan bendera milik PDI-Perjuangan.
Untuk itu koalisi masyarakat sipil yang berkumpul di Kontras tak lupa meminta polisi untuk menindak tegas aksi kekerasan semacam ini. Koalisi sipil itu terdiri atas Kontras, Imparsial, LBH Jakarta, Demos, dan Kasum.
Usai melakukan pengadangan pada massa Papernas, perwakilan sejumlah ormas Islam itu, khususnya FPI dan FBR, tampak mendatangi Gedung DPR RI Senayan. Sekitar 15 orang diterima Ketua DPR Agung Laksono didampingi dua anggotanya.
â€Perjuangan kami adalah menolak keberadaan kaum komunis di Indonesia,†kata Sekjen FPI Habib Faiz Al-Athos. Pihaknya berjanji terus melakukan penertiban demi kemaslahatan bangsa.(naz/aku/jpnn)
Sumber: Kaltim Post, 30 Maret 2007
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!






